VERITAS
12/1 (April 2011) 19-37
MURNI H. SITANGGANG
PENDAHULUAN
Mengelola keuangan, sebagai salah satu bentuk berkat Tuhan, dengan
baik merupakan satu hal penting yang seharusnya ada dalam kehidupan setiap
orang percaya. Perlu disadari oleh setiap orang percaya bahwa seluruh
kehidupannya berada di bawah Ketuhanan Yesus Kristus, termasuk di dalamnya
masalah uang, sehingga kehidupan kekristenan seharusnyalah berimplikasi pada
perilaku orang-orang percaya terhadap kekayaan dan kemiskinan.1 Oleh
sebab itu, tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa orang percaya yang gagal mengelola
keuangannya dengan baik berarti ia gagal dalam melaksanakan kehendak Tuhan
dalam hidupnya. Itu sebabnya selayaknyalah orang percaya memperhatikan hal ini
dan mulai menerapkan prinsip mengatur hartanya dengan baik dan jujur agar
berkenan di hadapan Tuhan sebab "tidak ada yang lebih memperlihatkan
orientasi dan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap
uang."2 Bukankah Yesus sendiri mengajarkan bahwa salah satu
tanda kerohanian yang sejati adalah sikap yang benar terhadap harta (Mat. 6:19-20)?
Jadi, tepatlah pernyataan J. Hampton Keathley, III bahwa tanda seorang manusia
yang benar dan saleh adalah pikirannya kepada Tuhan dan harta surgawi.3
Mengapa
kita harus mempersembahkan harta benda kita kepada Tuhan? Menurut Edwin L.
Frizen, "
One of the fundamental lessons for the Christians is that we cannot outgive
God."4 Memberi merupakan aspek penting dalam pelayanan dan
dalam kehidupan kerohanian
John R.
Muther, "Money and the Bible,"
Christian HistoryVl/2 (1987) 6. 2J. Hampton Keathley, III,
"Kejujuran Keuangan," http://www.bible.org/page.
php?page_id=3690; diakses pada 26 April 2011. 3Ibid.
4Dikutip dalam Stephen Olford, The Grace of Giving (Grand Rapid: Baker, 1972)
10.
seseorang. Walaupun pelayanan Kristen bukan hanya soal memberi
uang, melainkan lebih luas dari itu, pelayanan sejati juga menyangkut pemberian
kita kepada Tuhan. Akan tetapi fakta di lapangan ternyata membuktikan bahwa
teologi Alkitab mengenai pengelolaan kekayaan (material possession) ini tidak terlalu
sering dibicarakan di atas mimbar.[5] Hamba- hamba Tuhan takut
dianggap "mata duitan" bila berkhotbah mengenai hal- hal yang
bersifat materi. Akibatnya, jemaat dibiarkan dalam ketidaktahuan mereka akan
pentingnya pengelolaan keuangan sehingga uang mereka lebih banyak terbuang
untuk hal-hal yang bersifat tidak rohani.[6]
Realita ini juga dikuatkan oleh hasil penelitian Craig L. Blomberg bahwa bila
diperbandingkan antara berapa yang dihabiskan oleh orang-orang percaya untuk
kesenangan duniawi dengan yang dihabiskan untuk membantu pekerjaan Tuhan,
ternyata jauh lebih banyak yang habis untuk hal-hal yang berupa kesenangan
dunia. [7] Gene A. Getz juga menyatakan
pendapat yang kurang lebih sama bahwa diperkirakan orang- orang Kristen Injili
memberi rata-rata hanya 2% dari pendapatan mereka untuk memperluas Kerajaan
Allah.[8] Apa yang Getz tulis memang
situasi bertahun-tahun lalu dan tidak bisa dijadikan acuan saat ini, tetapi hal
ini dapat menjadi suatu sentakan bagi para rohaniawan bahwa sudah seharusnyalah
jemaat Tuhan diberi petunjuk/pengajaran bagaimana mengelola keuangannya dengan
baik sesuai kehendak Tuhan.[9]
Memberi untuk pelayanan Tuhan merupakan salah satu aspek dalam
mengelola keuangan yang baik. Tuhan memiliki tujuan saat Ia mempercayakan
berkat pada umat-Nya, yakni agar umat-Nya dapat ambil bagian dalam pelayanan
dan menjadi saluran berkat bagi orang lain. "It's about God's effort to convince people that
they need his guidance and love.
It's about
people like us who try to understand what God is and how he wants us to live
with one another. It's really about giving"[10]
Perpuluhan
merupakan salah satu aspek penting dalam hal memberi yang tak dapat diabaikan
dalam kehidupan material segenap umat Tuhan, yang sangat tertib pelaksanaannya
di masa PL. Selain itu, perpuluhan merupakan salah satu sistem pengelolaan
keuangan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Akan tetapi perpuluhan ini
kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap kontroversial. Ada yang
menganggap praktik ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, hanya
berlaku di zaman PL di bawah hukum Taurat Musa, namun ada pula yang dengan
tertib mematuhinya. Itu sebabnya penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut
berbagai kontroversi seputar ajaran ini dan bagaimana sesungguhnya pengajaran
Alkitab mengenai perpuluhan. Apakah perpuluhan masih relevan dilakukan di zaman
sekarang ini? Atau itu hanya berlaku di zaman PL saja? Sebab ada yang
beranggapan memberi perpuluhan adalah mekanisme hukum Taurat, sementara Tuhan
Yesus sendiri sudah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib
sehingga segala bentuk mekanisme Taurat tidak membebani kita lagi. Apa dan
bagaimana solusi yang tepat seputar kontroversi dan relevansi perpuluhan di
masa kini, itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
ASAL
MULA PERPULUHAN
Sebelum
lebih lanjut menyelidiki bagaimana sesungguhnya konsep alkitabiah mengenai
pengajaran perpuluhan, terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi
perpuluhan. Dalam bahasa Inggris dipakai kata " tithe
untuk menunjuk pada perpuluhan, yang oleh Easton's Biblical Dictionary
didefinisikan sebagai berikut: " a tenth of the produce of the earth consecrated and
set apart for special purposes."[11]
American Tract Society Dictionary juga berpendapat tidak jauh berbeda bahwa "tithe" adalah:
"a tenth,
the proportion of a man's income devoted to sacred purposes from time
immemorial." [12] Kedua kamus tersebut lebih
menekankan aspek rohani dalam mendefinisikan perpuluhan tersebut, sedangkan
kamus lain, yakni kamus Haag mendefinisikan perpuluhan dengan menekankan pada
fungsinya dalam PL, yaitu sebagai: "Pajak untuk raja (1Sam. 8:15-17) atau pada
Bait Kudus untuk nafkah penghidupan para imam dan kaum Lewi (Kej. 14:20;
28:22)."[13] Dari kesemua definisi yang
hampir serupa tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa perpuluhan adalah memberi
sepersepuluh dari harta kepemilikan kepada Tuhan sebagai rasa syukur atas
segala berkat-Nya yang kemudian digunakan untuk menopang pelayanan (menyokong
penghidupan orang-orang Lewi sebagai pelayan di Bait Suci).
Dalam
Alkitab perpuluhan disebut pertama kali dalam Kejadian 14:20 saat Abraham
memberikan sepersepuluh dari hasil kemenangannya atas Kedorlaomer kepada
Melkisedek, raja Salem, imam Allah Yang Maha Tinggi. Ayat ini biasanya dianggap
sebagai ayat yang menyatakan awal mula konsep perpuluhan muncul di Alkitab.
Perpuluhan tersebut diberikan oleh Abraham sebagai rasa syukurnya setelah ia
berhasil membebaskan Lot dari tangan Kedarlaomer dan memperoleh banyak jarahan.
Kenapa ia memberikannya kepada Melkisedek? R. T. Kendall menyatakan pendapatnya
tentang hal tersebut sebagai berikut:
One answer is that
Melchizedek's words were apparently the first Abraham had heard other than from
God Himself which resonated with all Abraham knew of the true God . . . when
Melchizedek blessed Abraham the latter knew that there was a direct connection
between the victory he had just won and this figure who had brought out bread
and wine . . . it was Melchizedek's words, then, that made the difference.[14]
Di mata Abraham, Melkisedek merupakan utusan Tuhan yang
menyuarakan perkataan-Nya, apalagi disebutkan dalam ayat tersebut bahwa Melkisedek
adalah imam Allah Yang Mahatinggi sehingga Abraham menganggap memberikan
persembahan kepadanya sama dengan memberi kepada Tuhan. Abraham melakukannya
bukan saja dengan luapan syukur, tapi juga dengan sukarela. Saat itu belum ada
ketetapan yang jelas seperti di zaman Musa mengenai perpuluhan ini sehingga
dapat dikatakan Abraham melakukannya atas inisiatif sendiri. "It was a
voluntary act of gratitude."[11]
Walau secara fisik ia memberikannya kepada Melkisedek, tapi pada dasarnya
secara rohani Abraham memberikannya kepada Tuhan sebab Melkisedek sendiri
adalah bayangan dari Yesus Kristus (Ibr. 7:4-5). Dengan demikian kita dapat
menyimpulkan bahwa pada zaman Abraham, perpuluhan belum menjadi kewajiban.
Perpuluhan adalah persembahan yang diberikan kepada Tuhan sebagai ekspresi
ungkapan syukur kita.
Perpuluhan kemudian kembali disebut dalam kisah Yakub ketika ia
bernazar kepada Tuhan dalam pelariannya bahwa ia akan memberikan sepersepuluh
dari segala sesuatu yang Tuhan beri padanya apabila Tuhan melindunginya dalam
perjalanannya (Kej. 28:20-22). Merupakan kebiasaan/adat sejak permulaan bahwa
sebelum menempuh perjalanan yang sulit dan berbahaya perlu untuk berdoa memohon
perlindungan Allah.[12] Itu sebabnya Yakub bernazar
dengan alasan,
"to dedicate a place of worship to God, as did Abraham, and to likewise
tithe."11 Sama halnya dengan kakeknya, Abraham,
Yakub pun memberi perpuluhan atas inisiatif sendiri dengan sukarela. " It seems that their
decision to tithe was motivated by gratitude, rather than obedience, fear of
punishment, or even in order to obtain a blessing from God"K
Dari
cerita mengenai Abraham dan Yakub tersebut kita mendapati bahwa sesungguhnya
dasar pelaksanaan perpuluhan bukanlah semata karena keberadaan keimamatan Lewi,
melainkan karena keberadaan Allah. Mereka melakukannya sebagai suatu tindakan
penyembahan sebab pembayaran perpuluhan adalah aksi yang signifikan dalam
hubungan mereka dengan Tuhan.[13] Meski demikian ada juga
yang berpendapat bahwa kedua contoh tersebut bukanlah sebagai tindakan memberi
perpuluhan, melainkan hanya tindakan kondisional semata sebab hanya disebut
satu kali saja dalam sejarah kehidupan Abraham dan Yakub.[14]Pendapat
inilah yang kemudian menjadi dasar argumen yang menyatakan bahwa
"perpuluhan yang sebenarnya" dimulai di zaman Taurat dan merupakan
bagian dari hukum Taurat karena pada zaman Tauratlah Allah menjadikan
perpuluhan sebagai suatu ketetapan, sementara perpuluhan yang diberikan oleh
Abraham dan Yakub dilakukan bukan karena mereka menerima ketetapan dari Tuhan,
melainkan atas inisiatif sendiri didasari kerinduan bersyukur. [15] Mengenai perdebatan dalam
hal apakah perpuluhan ini merupakan bagian dari hukum Taurat yang sudah
digenapi dalam Kristus sehingga tak berlaku di masa kini dan perdebatan-
perdebatan lainnya akan kita bahas pada bagian selanjutnya.
ATURAN
PERPULUHAN DI ZAMAN TAURAT
Perpuluhan kemudian menjadi sesuatu yang legal di zaman Taurat
Musa. Imamat 27:30-34 mencatat Tuhan menetapkan perpuluhan menjadi suatu
persembahan yang wajib diberikan oleh bangsa Israel sebagai umat pilihan-Nya.
Perpuluhan menjadi suatu lambang ketaatan bangsa Israel pada ketentuan Tuhan.
Pada zaman Taurat ini perpuluhan bukan lagi sekadar persembahan yang diberikan
dengan sukarela atas inisiatif sendiri, melainkan menjadi suatu keharusan
yang pelaksanaannya diatur sepenuhnya oleh Tuhan. Perpuluhan menjadi semacam
pajak wajib bagi bangsa Israel, yang diperkenalkan oleh Musa atas perintah
Tuhan dengan didasari dalam bangsa Israel ada yang disebut dengan sistem
keimamatan dan sistem korban.[16] Tujuan dari perpuluhan
dalam PL adalah mengajar umat Tuhan untuk selalu mengutamakan Allah dalam
hidupnya sesuai Ulangan 14:23. John R. Muther mengungkapkan pemikirannya
mengenai hal ini dengan menyatakan, " The Old
Testament institution of the tithe . . . served in part to remind the
Israelites that their wealth was ultimately the Lords and that they were to use
it to his glory."2
Menurut
Keathley sistem perpuluhan di zaman Taurat dapat diklasifikasi ke dalam tiga
bagian sebagai berikut:[17]
1.
Perpuluhan dari seluruh milik seseorang (Im.
27:30-33) yang diberikan kepada orang Lewi untuk pelayanan di Bait Allah (Bil.
18:20-21). Kaum Lewi sendiri juga tidak terlepas dari kewajiban perpuluhan ini
sebab mereka pun harus memberikan sepersepuluh dari yang mereka dapatkan kepada
Imam Besar Harun sebagai persembahan khusus (Bil. 18:28).[18]
2.
Perpuluhan diambil dari apapun yang dihasilkan
setelah perpuluhan pertama diberikan, yaitu perpuluhan yang dilakukan untuk
hari raya Tuhan dan korban (Ul. 12:17-18; 14:22) dan dibawa ke tempat kudus,
baik dalam bentuk uang maupun bukan. Dengan keharusan membawa perpuluhan
tersebut ke tempat yang dipilih Tuhan, baik dalam bentuk uang maupun bukan,
maka karakter perpuluhan tersebut tak terelakkan lagi menjadi berubah.
Perpuluhan dapat dikatakan berubah dari semacam bentuk persembahan hasil panen
menjadi pembayaran pajak belaka kepada imam dan orang Lewi sehingga tak salah
jika perpuluhan dikatakan juga sebagai salah satu bentuk dari pajak kultik.[19] Perpuluhan ini juga
dilakukan dengan tujuan mendemonstrasikan prioritas Allah dalam kehidupan umat
Israel, yang dilakukan dengan rutin tahun demi tahun (Ul. 14:22).[20]
3.
Perpuluhan yang diberikan tiap tiga tahun sekali untuk kesejahteraan orang
Lewi, orang asing, yatim piatu dan janda (Ul. 14:26-29). Bentuk perpuluhan ini
dianggap sebagai suatu bentuk perpuluhan yang melengkapi perpuluhan jenis kedua
yang bisa dikatakan tidak memperhatikan mereka yang berkekurangan. Dengan
perpuluhan jenis ketiga ini, maka orang asing, anak yatim dan janda yang
biasanya terabaikan menjadi diperhatikan.
Sebenarnya bila dikalkulasikan ketiga jenis perpuluhan tersebut
jumlahnya bukan lagi 10%. F. C. Grant berpendapat jika orang-orang Yahudi
mempraktikkan perpuluhan sesuai dengan ketentuan yang Tuhan beri jumlahnya
tidak mungkin tepat 10%, melainkan dapat sampai pada sekitar 20-23%% dari total
pendapatan si pelaksana perpuluhan.[21]Mengenai
hal ini penulis lebih condong untuk menyetujui apa yang ditulis Baker's Evangelical
Dictionary of Biblical Theology mengenai perpuluhan ini bahwa
sesungguhnya hanya ada satu saja perpuluhan yang diberikan kepada Tuhan.
Kalaupun perpuluhan itu kemudian seakan berbeda karena perubahan situasi yang
ada. Kitab Bilangan ditulis pada masa pengembaraan sehingga menginstruksikan
orang Israel memberi perpuluhan pada orang Lewi saja. Sementara di masa kitab
Ulangan, orang Israel telah memasuki tanah perjanjian dan mulai menetap
sehingga memungkinkan perpuluhan tersebut diberikan sambil mengadakan perayaan
khusus, yaitu memakan perpuluhan bersama antara keluarga si pelaksana
perpuluhan (termasuk hamba-hambanya) dengan orang Lewi di tempat yang
ditetapkan oleh Tuhan (Ul. 12:17-19). Jadi, pada dasarnya perpuluhan jenis
pertama dan kedua adalah sama. Sementara untuk perpuluhan jenis ketiga
sebenarnya adalah perpuluhan yang sama, hanya saja perpuluhan tersebut pada
akhir tahun ketiga diberikan kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan
para janda.
Selanjutnya
di masa pembuangan dan sesudahnya, perpuluhan mengalami perkembangan makna yang
disesuaikan dengan kondisi bangsa Israel saat itu. Periode pembuangan dianggap
berperan besar dalam perkembangan perpuluhan menjadi pajak kultik yang
sesungguhnya, di mana selama masa pembuangan perpuluhan dapat dianggap sebagai
salah satu jenis pajak yang dibayarkan pada imam-imam. Selama masa ini,
perayaan pemujaan tidak lagi dapat dikombinasikan dengan pembayarannya, bahkan
teks-teks sesudah masa pembuangan tidak lagi menyinggung perpuluhan yang
dirayakan dengan makan bersama. Yang jelas substansi perpuluhan harus dibawa ke
Bait Allah dan disimpan di sana. Pada periode ini kita juga dapat menemukan
hukum yang mengizinkan penebusan substansi perpuluhan dan bentuk pembayaran
lebih berupa uang daripada produk alamiah/natural. Bahkan lagi peraturan yang
mengatur mengenai pengantaran perpuluhan ditinjau kembali di mana pelaksana
perpuluhan tidak perlu lagi membawa persembahan ke Yerusalem. Orang-orang Lewi
yang akan mengumpulkan perpuluhan tersebut pada waktu-waktu tertentu (Neh.
10:37, 38). Itu sebabnya Vischer kemudian berpendapat di masa ini, perpuluhan
benar-benar telah mengambil rupa sebagai semacam pajak.[22]
KONSEP
PERPULUHAN DALAM PB
Jika dalam PL perpuluhan ditekankan dengan jelas dan diatur
sedemikian rupa sebagai bagian dari hukum yang harus ditaati maka di era PB
masalah perpuluhan tidak terlalu signifikan untuk dibahas. Kata
"perpuluhan" hanya ditulis beberapa kali dalam PB. Pertama,
disebut oleh Yesus dalam Matius 23:23 ketika menghardik orang Farisi yang
secara teratur melaksanakan perpuluhan, namun tidak memiliki kebenaran, belas
kasihan maupun kesetiaan. [23] Kedua,
disebut oleh Yesus saat menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang berdoa
di Bait Allah. Yang satu adalah seorang Farisi, yang merasa diri benar karena
telah melakukan segala perintah Tuhan termasuk perpuluhan, dan yang lainnya
adalah seorang pemungut cukai (Luk. 18:12). Ayat lain yang menyebut tentang
perpuluhan adalah Ibrani 7. Di situ dipaparkan tentang Melkisedek, gambaran
Tuhan Yesus Kristus, yang menerima perpuluhan dari Abraham (Kej. 14:17-20).
Akan tetapi, keempat ayat-ayat tersebut tidak menyatakan aturan-aturan khusus
mengenai perpuluhan. Harus diakui tidak ada bagian atau ayat dalam PB yang
menetapkan perpuluhan sebagai suatu ketetapan yang berlaku, namun yang jelas
kita dapat menyimpulkan bahwa saat Yesus Kristus ada di dunia perpuluhan masih
tetap berlaku di era PB, meski tidak ada ayat khusus yang menyatakan Yesus
menginstruksikan murid-murid-Nya melakukan perpuluhan dan juga tidak ada ayat
yang menyatakan Yesus menentangnya.[24]
Pada perkembangan selanjutnya di era rasul-rasul,
gereja mula-mula mengembangkan konsep giving (memberi), yang dipercaya
merupakan konsep yang dikembangkan dari perpuluhan. Namun konsep giving
ini dalam praktiknya melebihi konsep memberi 10% dari pendapatan yang ada. Di
masa gereja mula-mula, jemaat Tuhan dengan hati yang digerakkan oleh Tuhan,
memberikan apa yang mereka miliki untuk menjadi kepunyaan bersama dan selalu
ada di antara mereka yang menjual harta mereka lalu membagi-bagikan hasil
penjualannya kepada anggota yang lain sesuai keperluan masing-masing (Kis.
2:44-45). Gereja mula- mula mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga
membutuhkan keuangan yang tidak sedikit dan Alkitab mencatat bagaimana mereka
semua mengatasi hal tersebut secara bersama. Tidak dikatakan bahwa gereja
mula-mula mempraktikkan perpuluhan sebagaimana yang berlaku di zaman PL, namun
mereka mengembangkan konsep yang melampaui konsep perpuluhan di zaman
Taurat. Mereka bukan hanya memberikan 10% saja, melainkan melebihi dari takaran
tersebut dan perbuatan itu mereka melakukan dilandasi dengan hati yang tulus
dan mengasihi karena komitmen mereka pada Yesus Kristus dan juga untuk
mencukupi kebutuhan manusiawi mereka.[25]
Jadi, kita dapat mengatakan bahwa konsep perpuluhan dalam PB telah digantikan
dengan apa yang dinamakan giving, yang melebihi dan melampaui
konsep perpuluhan.[26]
Giving
dalam PB memiliki fungsi yang sama seperti perpuluhan dalam PL, yakni untuk
menyokong pelayanan dan sebagai sumber penghidupan pelayan-pelayan Tuhan. Hal
itu dapat kita lihat dari dasar-dasar Alkitab sebagai berikut:
1.
1 Korintus 9:1-22, gembala berhak minum susu
dombanya (ay. 7). Sama seperti perpuluhan yang digunakan untuk menyokong
kehidupan para imam Lewi di zaman PL selaku pelayan Tuhan, pemberian (giving)
jemaat dalam PB juga dipakai sebagai sumber penghidupan pelayan-pelayan Allah
dan untuk membantu pekerjaan Tuhan sebab seorang pekerja yang melayani Tuhan
dengan sungguh patut untuk mendapatkan upahnya. Setiap pelayan Tuhan berhak
mengharapkan kehidupan standar yang sepadan dengan pekerjaannya yang mulia dan
kudus.[27]
2.
Galatia 6:6-7 menyatakan bahwa orang yang
menerima pengajaran firman seharusnyalah membagi berkatnya dengan orang yang
mengajarkannya. Olford menyuarakan pendapatnya tentang hal ini dengan
mengatakan: "
God has never intended His servant to exist as paupers, while those who are
enriched by their ministry live as princes."[28]
Bila jemaat diberkati dengan pelayanan hamba Tuhan, maka ia wajib membagi
berkatnya dengan hamba Tuhan tersebut. Bahkan ayat 6 mengatakan bagaimana
seharusnya orang percaya membagi segala sesuatu yang ada padanya. Jadi, bukan
sekadar 10% dari pendapatannya, melainkan dalam segala hal yang baik, tidak
hanya dalam bentuk uang sesuai dengan Alkitab versi King James, "Let him that is taught
in the word communicate unto him that teacheth in all good things."
3.
Roma 15:26-27 yang menyatakan bahwa pemberian
bantuan kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan bagian dari pelayanan,
terlebih membantu saudara-saudara seiman di dalam Tuhan.
4.
Filipi 4:15-19 mengisahkan tentang jemaat Filipi
yang memberi bantuan kepada Paulus dalam pelayanannya.
5.
2 Korintus 11:7-9 menulis tentang bagaimana
Paulus ditopang oleh jemaat dalam pelayanannya.
6.
I Timotius 5:17-18 mencatat bagaimana para
penatua memperoleh bantuan finansial dari domba-domba yang mereka layani.
Kesimpulannya, perpuluhan tidak disebutkan lagi sebagai aturan
khusus dalam PB, namun konsep perpuluhan dikembangkan menjadi lebih luas lagi,
yaitu memberi
(giving) sebab keuangan merupakan aspek penting dalam pelayanan
yang tak dapat diabaikan. Mengapa jemaat Tuhan harus memberi? Karena selain
pelayanan butuh dukungan dana (1Kor. 9:14), orang-orang miskin dan
berkekurangan perlu diperhatikan (Gal. 2:10), lagipula banyak memberi tidak
akan membuat umat Tuhan berkekurangan karena Tuhan berjanji Ia yang akan menjadi
sumber segala berkat dan akan melipatgandakannya bagi mereka yang setia (2Kor.
9:10), asalkan umat Tuhan memberi dengan sukarela, tanpa merasa terpaksa (2Kor.
9:7).
KONTROVERSI
PERPULUHAN DI MASA KINI
Ada banyak argumen yang dilancarkan untuk menolak pemberlakuan
perpuluhan di masa kini. Adapun argumen-argumen tersebut adalah sebagai
berikut:
Pertama,
perpuluhan adalah ketetapan berdasarkan hukum Taurat, bukan anugerah.
Karena Yesus telah datang dan menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di
kayu salib, maka kita hidup bukan lagi di bawah ketetapan hukum Taurat
melainkan di bawah pimpinan Roh oleh anugerah Tuhan (Gal. 5:18; Rm. 6:14).
If God did not command
Christians to keep the Law, He did not compel them to tithe either Christ
fulfilled the Law with His death on the cross, nullifying its tyranny and
replacing it with the freedom of grace. To require tithing would remove the
precious liberty we have in Christ?6
Keathley berargumen "hukum" dalam Roma 6:14
adalah
anarthrous, sesuatu yang kualitatif, yang tidak bicara mengenai
satu hukum tertentu seperti hukum PL, tetapi hukum apapun.[29]
Dengan demikian, kita tidak di bawah sistem/aturan apapun dalam hubungan dengan
Tuhan, selain di bawah hukum Kristus tentunya (1Kor. 9:21 Gal. 6:2). Itu
sebabnya ia merupakan salah seorang yang beranggapan perpuluhan sudah tidak
berlaku lagi saat ini. Namun, Keathley mendukung prinsip memberi dengan
menyatakan bahwa sejak zaman PB yang berlaku adalah prinsip memberi sesuai
dengan anugerah/bimbingan Tuhan melalui roh (2Kor. 8:13,7; 1Kor. 16:2).[30] Tidak ada ayat signifikan
dalam PB mengenai perpuluhan. Kalaupun Yesus atau penulis surat Ibrani
menyinggung soal perpuluhan, menurutnya itu hanyalah sekadar menyatakan
referensi sejarah yang diberikan pada Israel di masa PL, tetapi hal itu tidak
pernah menunjukkan perpuluhan menjadi aturan hidup bagi gereja. Jadi, di masa
kini jemaat tidak perlu memberi perpuluhan, cukup memberi sesuai kerelaan hati
dan kemauannya sendiri menurut berkat yang Tuhan beri padanya.[31]
Kedua,
perpuluhan tergantung pada keimamatan Lewi dalam aplikasinya. Setelah keimamatan
Kristus menggantikan keimamatan Lewi, hal itu juga meniadakan sistem lama di
mana perpuluhan termasuk di dalamnya. " With the sealing of
the New Testament at Christ's death, the tithe passed with the system of which
it was a part."[32]
Ketiga,
Yesus tidak melakukan perpuluhan, demikian pula pengikut- pengikut-Nya. "
One can assume, therefore, that the absence of tithing from Jesus specific
teachings gives mute testimony that its validity ceased with the end of the Old
Testament."[33]
Keempat,
perpuluhan melayani materialisme. Bila seseorang sebenarnya mampu memberi lebih dari
10%, namun hanya memberi 10% saja sesuai ketentuan perpuluhan dan kemudian
memakai selebihnya untuk hal-hal yang tidak rohani, maka itu berarti ia sudah
terjebak dalam hal melayani materialisme. "Proportionate
giving relieves the donor of any pressure to give more, thus freeing the
greater part for himself. With his gift paid out, he can sit back, relax and
not feel guilty about how he spends the other 90percent."[34]
Kelima,
perpuluhan memproklamirkan ketidakikutsertaan. Setelah memberikan
jumlah yang proporsional untuk membiayai "aksi," (maksudnya di sini
pelayanan), si pemberi dapat tinggal duduk saja dan menyaksikan hasilnya dari
kejauhan. Ia tidak perlu merasa harus terlibat secara pribadi dan dapat tetap
memilih berdiri dengan anonim.[35]
Keenam, perpuluhan
merupakan tipuan untuk menghasilkan uang. Argumen ini merupakan
alasan yang paling sering dikedepankan oleh pihak-pihak yang menolak
perpuluhan. Getz, misalnya, menolak bila perpuluhan dijadikan doktrin oleh
orang-orang yang menganut paham teologi kemakmuran, yang mengklaim dengan
memberikan perpuluhan secara teratur akan membuat umat Tuhan diberkati berlipat
kali ganda. Menurutnya, pandangan semacam ini akan menghasilkan kelompok
kapitalis dan hal ini gagal ditengarai oleh para guru Alkitab, atau kemungkinan
dapat saja mereka menggunakan cara ini sebagai cara gampang untuk menghasilkan
uang. [36] Seorang teolog Indonesia,
Herlianto, menyoroti hal ini dengan mengatakan:
Menyedihkan
sekali bahwa belakangan ini ayat Maleakhi 3:6-10 (dengan penafsiran harfiah)
banyak disalahgunakan oleh penginjil- penginjil tertentu! Banyak
penginjil-penginjil memanipulasikan ayat itu untuk mengumpulkan dana
yang sering disalah-gunakan dengan motivasi untuk kepentingan diri sendiri,
antara lain dengan menanamkan rasa takut dikalangan jemaat dengan kotbah yang
menyebutkan bahwa bila kita tidak melakukan perpuluhan berarti kita
"menipu" dan akan "dikutuk" Tuhan,
tetapi kita perlu berhati-hati terhadap
penginjil-penginjil yang "menipu" kita dengan kotbah perpuluhan
semacam itu![37]
Daripada mengajarkan suatu praktik yang membantu dalam mengarahkan
pada pelayanan yang baik, banyak gereja dan organisasi secara licik menempatkan
pola giving
sebagai tipuan untuk membuat departemen pelayanan mereka lebih efektif. Mereka
bahkan menggunakan "rasa bersalah" jemaat untuk memotivasi mereka,
sehingga mereka dapat menghasilkan keuangan dalam jumlah besar. Penyalahgunaan
konsep perpuluhan ini membuat metode ini menjadi sesuatu yang dikecam.
Ketujuh,
perpuluhan bukanlah bentuk pemberian secara proposional. "Memberi
sesuai dengan perpuluhan merupakan halangan bagi pemberian sesuai anugerah yang
digambarkan dalam Perjanjian Baru," demikian Keathley berargumen.[38] Banyak orang yang
sebenarnya bisa memberi lebih dari hanya sekadar 10%, tetapi tidak merasa
demikian karena sudah memberi sepersepuluh dari berkatnya menurut aturan
perpuluhan. Namun ada juga orang yang merasa memberi sepersepuluh dari
berkatnya menjadi suatu beban yang cukup berat karena keadaan ekonominya yang
lemah atau "pas-pasan."
Howard Dayton, seorang pegawai Kepala Eksekutif Crown Financial
Ministries, berpendapat adalah strategi yang salah bagi gereja menetapkan
perpuluhan sebab, " by focusing solely on how members should handle 10 percent of their
money from God's perspective, church leaders neglect the other 90 percent and
leave people unprepared for comprehensive stewardship."[39] Akibatnya, tidak heran bila
pemberian jemaat untuk pelayanan tetap lebih kecil daripada yang dibelanjakan
untuk hal-hal duniawi, karena merasa sudah memberi sepersepuluh, ada
kecenderungan untuk menghabiskan yang 90% lagi untuk kesenangan diri sendiri.
Kedelapan,
perpuluhan bukanlah syarat keselamatan. Argumen yang menyatakan
bahwa perpuluhan merupakan syarat keselamatan hal adalah argumen yang terlalu
jauh sehingga jika seseorang tidak memberi
perpuluhan maka ia bukanlah seorang Kristen sejati dan
tidak akan selamat.[40]
Maleakhi 3:6-10 merupakan ayat yang paling sering digunakan untuk
menakut-nakuti jemaat Tuhan agar memberi perpuluhan bila tidak ingin
"dikutuk." Akibatnya, perpuluhan menjadi sesuatu kewajiban belaka dan
bila sudah begitu berarti orang tersebut hidup di bawah hukum, padahal Galatia
5:4 menjelaskan bahwa jika kita mengharapkan kebenaran oleh karena melakukan
hukum maka kita ada di luar kasih karunia Allah.
RELEVANSI
PERPULUHAN DI MASA KINI
Bagi mereka yang setuju terhadap perpuluhan, ada
beberapa argumen yang dikemukakan untuk menyatakan bahwa perpuluhan masih
berlaku hingga kini, yaitu: pertama, perpuluhan sebagai penuntun praktis/berguna
untuk konsep pemberian yang sistematis sesuai 2 Korintus 9:5, 7
"A practical
plan for giving, however, enable us to circumvent the emotions and
circumstances that would hinder us from being faithful stewards."[41]Bila kita tidak memiliki
standar yang paten berapa yang harus kita beri, maka kita cenderung akan
memberi dengan sekehendak hati yang tergantung pada suasana hati. Persoalan
timbul ketika hati kita sedang tidak ingin memberi, apakah itu berarti kita
tidak dipersalahkan bila memutuskan untuk tidak memberi? Bagaimanapun
prinsip-prinsip pengaturan diperlukan agar kita dapat mendisiplinkan diri kita.
[42]Memberi minimal 10% dari
berkat kita dapat menjadi standar agar kita dapat memberi secara sistematis.
Kedua, perpuluhan memberi kelepasan spiritual, yakni dengan melepaskan
kita dari tirani materialistis. Dengan memberi secara teratur
sepersepuluh dari berkat yang kita peroleh, dapat menghindarkan kita dari
godaan untuk menjadi materialistis. Bagaimanapun keinginan untuk memiliki
segala sesuatu ada di dalam diri tiap-tiap orang, yang siap membelenggu kita
setiap saat.
Ketiga, perpuluhan mengakui Tuhan sebagai sumber dan pemilik segala
harta yang dimiliki. Sesungguhnya semua yang kita miliki berasal
semata-mata dari Tuhan, namun Ia memberikan dengan murah hati kepada kita. Oleh
sebab itu, sebenarnya bukanlah hal yang berat untuk
mengembalikan sepersepuluh dari pemberian itu kepada pemiliknya
yang sah.
Keempat,
perpuluhan adalah tindakan sukarela dari penyembahan. Perpuluhan
merupakan bagian dari penyembahan sebab perpuluhan merupakan bagian dari korban
yang kita persembahkan pada Tuhan. Dengan memberikan perpuluhan, jemaat
menyatakan rasa syukurnya atas segala berkat yang Tuhan berikan.
Kelima, perpuluhan
mengajar kita untuk mengutamakan Tuhan. Maksudnya, saat kita
pertama kali menerima berkat dari Tuhan, maka terlebih dahulu kita menyisihkan
sepersepuluh dari berkat tersebut untuk dijadikan persembahan perpuluhan,
sebelum mulai memakainya untuk mencukupi kebutuhan kita. Jadi, perpuluhan
diambil dari penerimaan awal kita, bukan dari penerimaan yang sudah terlebih
dahulu dipotong- potong untuk berbagai keperluan.
KESIMPULAN
Setelah mempelajari seluk-beluk dari perpuluhan, mulai pada zaman
PL sampai pada masa PB serta berbagai pendapat yang pro dan kontra terhadapnya,
penulis berpendapat bahwa:
Pertama,
sesungguhnya perpuluhan sudah dimulai dari Abraham yang kemudian menjadi bagian
ketetapan Tuhan yang dilegalkan dalam hukum Taurat. Jadi,
perpuluhan memang merupakan bagian dari hukum Taurat dan bila ada pihak yang
menolak perpuluhan karena alasan tersebut, tidaklah sepenuhnya salah. Pada
kenyataannya kita sekarang ada di bawah anugerah Kristus dan hidup dipimpin
oleh Roh. Yesus telah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib
sehingga bila kita mempraktikkan hukum Taurat dengan rasa kewajiban dan
keterpaksaan oleh karena hukum atau dengan menganggapnya kita dapat beroleh
keselamatan maka kita bersalah di hadapan Tuhan karena mengabaikan makna
penebusan Kristus. Namun, bila kita melakukannya dengan didasari kasih dan rasa
syukur kita kepada-Nya, dengan rela dan tidak bersungut-sungut sesuai 2
Korintus 9:6-8; 5:14, maka hal itu dibenarkan. Walaupun penulis menyetujui
perpuluhan merupakan bagian dari hukum Taurat yang sudah digenapi oleh Yesus
Kristus, tetapi penulis tidak menentang pelaksanaan perpuluhan. PB memang tidak
membahas secara spesifik dan khusus mengenai perpuluhan, namun juga tidak ada
ayat yang jelas-jelas mengatakan perpuluhan sudah tidak berlaku lagi. Yesus dan
penulis surat Ibrani beberapa kali menyinggung perpuluhan sebagai suatu praktik
yang sah. Tidak ada alasan untuk menganggap perpuluhan harus ditiadakan di
zaman Perjanjian Baru dan di masa kini. Lagipula meski hukum Taurat telah
digenapi oleh kematian Yesus, namun bukan berarti ditiadakan. Hukum tersebut
disempurnakan oleh Yesus dengan kasih-Nya sehingga bila sebelumnya kita
melakukan ketetapan Allah karena takut akan hukuman, maka sekarang kita
melakukannya karena kasih.
Kedua,
bagaimanapun tetap diperlukan suatu sistem keuangan yang sistematis dan sehat
sebagai sumber penghidupan hamba-hamba Tuhan dalam melaksanakan tugas pelayanan
mereka di dalam Tuhan. Untuk memenuhi hal ini, dibutuhkan peran
serta seluruh umat Tuhan tanpa terkecuali. Tuhan sudah memberikan berkat bagi
umat-Nya sehingga tidak berlebihan jika umat Tuhan juga perlu ambil bagian
dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, baik lewat berkat yang Tuhan beri maupun lewat
kehidupannya.
Agar umat Tuhan dapat memberi dengan sistematis, perpuluhan
merupakan standar minimal. Maksudnya, pemberian kita tidak dibatasi oleh
perpuluhan tersebut, tetapi perpuluhan sebagai langkah awal sehingga kita dapat
memberi melampaui
perpuluhan jikalau memang kita mampu untuk itu. Gereja mula-mula dalam PB telah
memberikan contoh pada kita bagaimana mereka bukan hanya memberi sepersepuluh
dari harta mereka, melainkan setengah bahkan semua yang mereka punya. Dalam
konteks greja mula-mula dan ajaran rasul-rasul, perpuluhan memang tidak
ditekankan lagi namun konsep tersebut tidak hilang, tetapi kemudian
dikembangkan menjadi konsep giving (memberi) yang lebih luas bahkan
melampaui konsep perpuluhan. Kendall yang bersikap pro terhadap perpuluhan
menyuarakan pendapatnya sebagai berikut: " we should not end with the tithe but should give
beyond the tithe."[43]
Bagaimanapun juga perpuluhan adalah awal yang merupakan ketentuan dasar minimal
bagi orang percaya. Kita tidak boleh terpaku hanya pada jumlah sepersepuluh
dari berkat yang kita dapat. Kalau Tuhan sudah mempercayakan banyak sehingga
kita mampu memberi lebih dari itu, sudah sepatutnyalah kita memberi lebih dari
perpuluhan.
Merupakan hal yang salah bila seseorang menganggap dengan konsep
memberi (giving)
ia dapat memberi sekehendak hatinya sendiri. Kita memang tidak lagi di bawah
hukum atau keterpaksaan, namun kita hidup di bawah anugerah Tuhan. Kita
dibenarkan bukan karena perbuatan kita, melainkan karena anugerah semata (Ef.
2:8, 9). Akan tetapi, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk hidup dalam
kebebasan kita dengan bertanggung jawab dan tetap memiliki kedisiplinan diri
yang didasari kasih kita dan iman pada Tuhan. Minimal kita memberi sepersepuluh
dari berkat yang kita dapat dari Tuhan dengan teratur karena kita mengasihi
Tuhan dan mewujudkannya dengan ikut ambil bagian dalam mendukung pelayanan
Tuhan.
Pada
dasarnya konsep memberi dalam PB merupakan konsep yang dikembangkan dari konsep
perpuluhan dalam PL, yaitu dilaksanakan untuk mendukung pelayanan dan
memperhatikan mereka yang berkekurangan (seperti: janda, anak yatim, orang
asing yang ada di tengah-tengah bangsa Israel). Gereja mula-mula juga
mengembangkan konsep memberi atas dasar tujuan yang sama. Cunningham
mengatakan,
The New Testament indicates
that one major purpose of giving is to alleviate different forms of human need
and problems. This dimension is so important that Jesus teaches that when we
give to people in need, we give directly to the Lord Himself (see Matt. 25:31-
46).[44]
Dengan
dasar ini ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam konsep memberi
ini, yaitu:
1.
Sebagai respons atas rahmat Tuhan (2Kor. 8:7),
sehingga kita memberi karena kasih
2.
Sebagai respons terhadap teladan Kristus yang
memberi diri-Nya pada kita (2Kor. 8:9), sehingga kita memberi karena Yesus
telah terlebih dahulu memberi pada kita
3.
Sebagai respons terhadap kebutuhan manusia (Luk.
10:29-37; 2Kor. 8:14) dan prinsip saling memperhatikan agar tidak ada yang
berkekurangan di antara umat Tuhan
4.
Sebagai ekspresi bersyukur pada Tuhan (Im.
7:12-13) atas segala berkat dan kebaikan Tuhan
5.
Sebagai bentuk persembahan pada Tuhan (Flp.
4:18) di mana memberi kepada pelayan Tuhan adalah sama dengan memberi kepada
Tuhan
6.
Sebagai jalan/cara simbolisasi komitmen
seseorang dari semua kepemilikannya untuk melayani Tuhan dan manusia (1Kor.
6:20), sebab sesungguhnya Tuhan telah menebus kita sehingga kita wajib
memuliakan-Nya dalam segala sesuatu dalam hidup kita
7.
Sebagai bukti konkret dari kasih (2Kor. 8:8, 24)
bahwa seseorang yang memilik kasih pastilah tidak berat tangannya untuk memberi
Jadi
konsep memberi ini bukan meniadakan konsep perpuluhan, melainkan menyempurnakannya.
Dengan konsep ini bukan berarti kita bebas dari kewajiban memberi perpuluhan,
melainkan kita kita menjadikan perpuluhan sebagai starting point
(prinsip awal) sehingga kita tidak terpaku pada hanya memberi sepersepuluh
saja, namun memberi lebih banyak lagi karena kita mengasihi Tuhan.
PENUTUP
Perpuluhan adalah ketentuan yang berasal dari Allah, yang
mengingatkan kita bahwa Ialah yang empunya segala berkat. Di masa kini, kita
memberi karena kita mengasihi Tuhan bukan karena kita takut akan hukuman atau
karena mengharap imbalan dan juga bukan karena dengan pemberian itu kita
berharap dapat diselamatkan olehnya. Jikalau kita memang menyadari kita hidup
di bawah anugerah kasih Tuhan, maka tidak ada jumlah yang terlalu berat untuk
dikorbankan karena kita mengasihi Tuhan, sama seperti janda yang mempersembahkan
dua peser duit dalam Lukas 21:1-4 yang dipuji oleh Yesus karena ia
mempersembahkan segala pendapatannya tanpa paksaan; demikian pula Paulus memuji
jemaat Makedonia yang memberi melampaui batas kemampuannya mereka (2Kor.
8:1-15). Seharusnyalah kita memberi dengan sukarela tanpa terhalang oleh
kekhawatiran, keterpaksaan, ujian ataupun tantangan seberat apapun juga. Dengan
memberi, kita memuliakan Allah kita yang sudah terlebih dahulu memberi pada
kita.
17Ibid.
18Arthur
L. Manning 3rd, "Tithing-for Today?" http://pages.sbcglobal.net/clocks/
tithe.htm; diakses pada 26 April 2011.
23"Money and the Bible" 6.
36Bright, As You Sow 112.
[6]Ibid. 14.
[8]A Biblical Theology 14. Yang lebih unik lagi
adalah justru orang Amerika yang kurang mampu lebih "memberi"
daripada mereka yang sebenarnya lebih mampu dan mapan dalam ekonomi. Bahkan
slogan epigram John Wesley " Gain all you
can, save all you can, give all you can," telah berganti menjadi
"money will solve your problem,"
" Go with the flow to make the dough,"
dan " spend all you cad' (ibid.).
[9] Sebagai perbandingan menurut
data yang dikumpulkan oleh Christian Financial
Concepts pada September 2000, 20% anggota gereja Injili memberi 80% dari
pemasukan mereka untuk mendukung gereja mereka, sementara 30% memberi 20%,
sedangkan 50% lainnya tidak memberi apa-apa (Ken Walker, "Tithing: What
Should the Church Teach its Members About Giving?" http://www.bpnews.net/bpnews.
asp?ID=16275; diakses pada 26 April 2011).
[10]Douglas W. Johnson, The Tithe, Challenge or
Legalism (Nashville: Abingdon, 1984) 17. Lebih
lanjut ia menguraikan: "Giving is the most important ingredient no
matter what the story-creation, he establishment of a kingdom, Noah, the
prophets, the captivities of the people and their return, or the Wisdom of
sayings and songs. In each story, God gives a person or a people something for
their use and expect them to be faithful in the ways they use it, others,
animal, money and land. In the land, the glory of the use will be returned to
God while people benefit from the gift and its use" (ibid.). "Brandon Staggs, Power
BibleCD3.7a (CD ROM; Bronson: Online Publishing,
[12]Ibid.
[13]YLSA, SABDA/OLBversi 7.03
(1997-1999).
[11]Ibid, 49.
[12]
"Tithing-Today?" http://www.cogeternal.org/text/035tithingtoday.htm;
diakses pada 26 April 2011.
[13]"Tithing-Today?"
[15]J. B. Sparks, misalnya, berpendapat bahwa sesungguhnya
perpuluhan adalah aturan yang tak relevan lagi di masa kini karena Tuhan Yesus
telah menggenapi hukum Taurat, termasuk perpuluhan di dalamnya, dengan
kematianNya di kayu salib. Ia menjelaskannya sebagai berikut: "According
to Bible dictionaries, tithing was popular among many nations. History shows
that many nations gave different percentages of their income for religious
works. The Westminister Dict. of the Bible says the separation of a certain
proportion of the products of one's industry or of the spoils of war as tribute
to their gods was practiced by various nations at this time. The Lydians
offered a tithe of their booty. The Phoenicians and Carthaginians sent a tithe
annually to the Tyrian Hercules. These tithes might be regular or occasional,
voluntary or prescribed by law. The Egyptians were required to give a 5th part
of their crops to Pharaoh (Gen. 47:24.) Abraham and Jacob were no doubt
familiar with this principle, even though it was not yet given to them by God
as a command " ("Why Modern Churches
are Carnal God's Plan for a Scriptural New Testament Church," http
://cnview.com/churches_today/chapter_6_truth_about_the_church.htm; di akses
pada 26 April 2011).
[16]"The
Origin of Tithing."
[17]"Kejujuran
Keuangan."
[18]
Penting untuk disadari bahwa meskipun persembahan perpuluhan itu diberikan
kepada suku Lewi, persembahan itu tetaplah milik Tuhan yang Ia berikan kepada
mereka (ay. 21), sebab Tuhan sendiri yang telah menetapkan aturan tersebut,
bukan orang Lewi. Keimamatan Lewi ini merupakan bentuk representasi pekerjaan
Yesus Kristus (bdk. Im. 6 dengan Ibr. 7 di mana Yesus Kristus sebagai
Melkisedek, yang adalah Imam Besar yang Agung, menerima perpuluhan dari
Abraham, bapa leluhur orang Lewi).
[20]
Mengenai perpuluhan jenis kedua ini Baker's
Evangelical Dictionary of Biblical Theology punya pendapat lain. Menurut
kamus ini pada dasarnya ayat-ayat pada Bilangan 18 dan Ulangan 14 yang
berbicara mengenai perpuluhan yang sepertinya berbeda, namun sebenarnya mengacu
pada satu bentuk yang sama. Hanya saja situasi kondisi yang ada membuat kedua
ayat tersebut seakan berbeda satu dengan yang lain.
[23]Juga
dicatat dalam Lukas 11:42.
[24]Bill Bright, As You Sow the Adventure of Giving by Faith
(San Bernardino: Here's Life, 1989) 123.
[26]"Tithing-Today?"
[28]Ibid.
[29]"Kejujuran
Keuangan."
[30]Ibid.
[31]Ibid.
[33]Ibid.
113.
[34]Ibid.
[35]Ibid.
114.
15.
[38]"Kejujuran
Keuangan."
[39]Dalam Walker, "Tithing:
What Should the Church Teach its Members about Giving?"
[40]"Are You Giving to God
with a Cheerful Heart or Tithing by Law to Benefit Yourself?" http://www.letusreason.org/Wf34.htm;
diakses pada 26 April 2011.
No comments:
Post a Comment